Minggu, 02 September 2018

Mungkin Aku Mengira Aku Kuat

Terkadang aku berpikir aku kuat dalam menjalani semua perjalanan hidupku. Terkadang aku berpikir bahwa aku menjalani hidupku ini hanya Karna kuat diriku saja.
Namun terkadang aku tersadar bahwa aku terkadang rapuh dan butuh sandaran untuk melalui hari-hariku.
Bagaimana tidak?
Dia usiaku yang sekarang, yang seharusnya menikmati gemerlapnya dunia seperti orang-orang disana. Tetapi kenyataannya Tuhan memberikan aku tugas mulia yang bakal menjadi jalanku menuju surga kelak.
Terkadang aku ingin berontak kepada Tuhan, dan berkata “aku ingin seperti orang di luar sana yang menikmati gemerlapnya dunia.”
Tapi sejenak aku pun tersadar, bahwa cara Tuhan untuk mengisi kehidupan anak-anakNya bermacam-macam.
Mungkin Tuhan ingin mengisi kehidupanku dengan cara menjadikan ku orang tua bagi adik dan keponakanku.
Orang pernah bertanya kepadaku, “mengapa kamu yang menyekolahkan keponakanmu?”
Dengan santai aku menjawabnya, mungkin itu sudah tanggung jawabku dari Tuhan dan amanah dari orang tuaku dulu.
Dan yang terpenting, aku sudah sayang dan jatuh cinta kepada kedua keponakanku. Aku tidak pernah menyesal berkorban buat mereka sekalipun mereka  nanti dewasanya melupakanku.
Bagaimana dengan adikku?
Terkadang inilah yang menjadi bahan pertimbanganku untuk belum menikah sampai saat ini. Aku takut dengan menikah, dia jadi merasa tidak ada yang memperhatikan.
Dan yang terlebih walaupun begitu, aku merasa sudah menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab meskipun belum menikah.
Aku sudah merasakan bagaimana rasanya orangtua yang dirindukan anaknya, aku sudah merasakan bagaimana perasaan orang tua ketika anaknya sedang sakit, aku juga sudah merasakan bagaimana menjadi orang tua ketika menanyakan nilai raport.
Terkadang teman-temanku bertanya apakah aku kuat menjalaninya sendirian.
Jawabanku cukup singkat “tidak”.
Aku beruntung memiliki abang yang satu visi denganku dalam merawat keponakan kami dan adik  kami.
Kami berdua percaya bahwa pengorbanan kami ini tidak akan sisa-sisa di mata Tuhan.
Dengan kata lain, kami sudah menikmati hidup kami seperti ini dari tahun 2013.
Apakah kami pernah mengeluh dan merasa capek?
Jawaban kami yang pernah. Tapi ini semua terbayar lunas ketika melihat dan mendengar suara dan senyuman mereka.
Apakah keponakan dan adikku menjadi merasa minder?
Jawabannya tidak. Karena kami mengajarkan mereka untuk menikmati hidup ini dan selalu bersyukur. Dan saya menjadi bangga pada mereka karena mereka didewasakan oleh waktu.
Oleh karena itu bagiku tidak ada kata sia-sia dalam hidup ini kalau kita berkorban untuk orang yang kita sayangi.
Aku tidak berharap banyak pada Tuhan, mereka akan menjadi manusia seperti apa.
Aku hanya berharap kepada Tuhan, menjadikan mereka anak yang takut akan Tuhan dan selalu bersyukur dan sehat selalu. Karna aku berpikir kalo mereka menjadi pintar dan sukses kelak, itu merupakan bonus dari Tuhan.

Tulisan yang tak seberapa ini hanya ungkapan rasa syukur pada Tuhan untuk hari-hari yang kU jalani selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar