Sayang dan suka adalah dua hal yang sama tetapi memiliki perbedaan yang cukup mencolok.
Sayang belum tentu suka.
Terkadang apa yang kita sayangi belum tentu kita sukai ataupun sebaliknya apa yang kita sukai belum tentu kita sayangi.
Contohnya saja, orang tua sudah tentu menyayangi anaknya, tetapi jika ditanya apakah mereka menyukai anak mereka. Sebagian besar dari mereka pasti menjawab dengan ragu-ragu. Apalagi di zaman gadget seperti sekarang ini. Orang tua bisa tidak menyukai kehadiran anak mereka dikarenakan mereka lebih menyukai dunia mereka sendiri, seperti chatting dengan teman, bermain “games” di gadget dan lain sebagainya.
Oleh karena itu terkadang saya berpikir:
“Apakah orang yang menyayangi saya juga menyukai keberadaan saya di sekitarnya?” atau
“Apakah orang yang menyukai saya tetapi tidak menyayangi saya?”
Tetapi saya mencoba untuk berpikir optimis dan positive thinking, bahwa tidak selamanya orang selalu begitu.
Mengapa saya dapat yakin berkata seperti itu, karena saya yakin bahwa orang yang dapat bersyukur dan mensyukuri hidupnya dapat menyayangi dan menyukai seseorang dengan sekaligus. Sebab dia berpikir, kita mensyukuri kehidupan kita, kita sudah berdamai dengan diri sendiri dan otomatis kita dapat menerima orang lain untuk hadir mewarnai hidup di sekeliling kita dengan tulus.
Jadi, pesan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan saya ini adalah jika anda menyayangi seseorang, hendaknya anda menyukai keberadaannya di sekitar anda.